Skor Bulu Tangkis Akan Diubah Jadi sebelas x 5, Susy Susanti Protes


Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti, risau dengan rencana perubahan sistem skor bulu tangkis dunia. Sistem skor 21 x tiga yang saat ini dipakai kemungkinan bakal diubah menjadi sebelas x 5.

Menurut Susy, skor baru tersebut kemungkinan bakal diterapkan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) untuk Olimpiade 2020.

“Penerapan skor 11 untuk persiapan Olimpiade 2020, waduh terlalu mepet," kata Susy pada Badmintonindonesia.org. "Perubahan skor akan mempengaruhi permainan, pola main, aplikasi latihan dan sebagainya. Perubahan skor 15 ke dua puluh satu saja empat  sampai lima  tahun penyesuaiannya, saat ini saat orang telah menikmati permainan bulutangkis poin 21, diubah lagi aturannya. Kami ingin tahu sesungguhnya bulutangkis bersedia dibawa kemana?”

Dia khawatir selain menyulitkan pemain, reputasi olahraga tersebut bakal diturunkan perubahan aturan tersebut. Ditambah tapi tak secara drastis jika ada yang kurang

Susy juga bercerita bahwa siste skor 11 x 5 (dengan sistem reli poin) akan memperpendek durasi permainan. Penonton pun tak akan bisa menikmati seni dan estetika permainan bulutangkis seperti yang ada di sistem skor sebelumnya.

Baca: Bulu Tangkis: Jika out, 1  poin "Waktu perubahan sistem skor pindah bola ke reli poin, awalnya dibilang cepat, sekarang dibilang terlalu lama, bersedia dipotong lagi, ingin dibikin seperti apa? Mungkin yang bikin aturan enak, tetapi yang menjalankannya butuh latihan seperti apa, polanya beda semua.”

Dalam sistem skor baru nanti, game didapat pemain di poin 11. Setting terjadi pada kedudukan 10-10 dan maksimal game di angka 15. Jadi, kalau terjadi angka imbang 14-14, maka kedudukan akhir adalah 15-14 untuk si pemenang. Perpindahan sisi lapangan terjadi di game kelima saat kedudukan angka 6. Sesi coaching oleh instruktur diberikan maksimal 2  kali dalam 5  game itu.

“Sistem skor yang baru ini saya nggak tahu akan bagaimana, kesannya kayak diburu-buru," kata Susy. "Pemain betul-betul gak boleh bikin kesalahan sendiri, yang lambat panasnya tidak bakal bisa, yang akurasi teknik pukulannya tak bagus juga tak bisa, pemain yang belum matang pun nggak bisa.”

Bagi Susy sistem skor baru ini menjadi 1  dari 3  aturan baru yang jadi keluhan. 2  lainnya adalah soal keharusan pemain elit bertanding di minimal dua belas turnamen dalam setahun serta perubahan batas tinggi servis dari tidak rendah rusuk terbawah tiap pemain menjadi 1  standard 115 cm dari permukaan lapangan.

Susy menuturkan bahwa PBSI bakal mengirim surat serta berdiskusi dengan pihak-pihak terkait, diawali dengan Konfederasi Bulutangkis Asia (BAC). “Akan ada pertemuan dengan BAC bulan depan, kami bakal diskusikan dengan negara lain, karena beberapa negara memang keberatan juga, bukan hanya Indonesia. Peran Indonesia juga harus lebih aktif, lantaran banyak aturan yang sifatnya tiba-tiba dan tidak ada pihak yang bisa memaparkan secara detail, apa tujuan aturan baru ini?” kata ia.

Susy Susanti melanjutkan, “Mungkin saja akan ada pemungutan bunyi, aku wajib cek lagi dengan tim hubungan internasional soal ini. {Indonesia merupakan salah satu negara yang dipandang di bulutangkis, seperti Tiongkok, Korea, Denmark, Malaysia yang punya suara cukup kuat untuk memberikan masukan.”

BADMINTON INDONESIA | Denmark, masukan diberikan oleh malaysia yang punya suara cukup kuat untuk.}

Komentar